Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Perkenalkan nama saya Laila Fitria , Nim. P2A523015. Mahasiswa Magister Pendidikan IPA.
Berikut adalah 2 video tugas UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains saya dan kelompok saya yaitu kelompok 3.
Video 1 mengenai Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis.
Video 2 mengenai Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif. Selamat menyaksikan.
Soal No 1. Buat video singkat aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui tutor sebaya (siswanya dapat teman satu kelas).
Penjelasan:
Pembelajaran Era
Disrupsi Inovasi ini melatih siswa untuk memiliki kemampuan 4C (creative
thingking, critical thingking, collaboration dan communication). Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan yaitu
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Model pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa dimana siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.
Langkah-langkah Model PBL
1. Kegiatan
pembukaan
- Guru mengucapkan salam
- Berdo’a sebelum memulai pembelajaran
- Guru menanyakan kabar siswa
- Guru mengajak siswa ice breaking dan memotivasi siswa
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kegiatan
Inti
1. orientasi siswa pada masalah
· Peserta didik membentuk kelompok.
· Peserta didik mengamati video terkait
permasalahan pernafasan di lingkungan masyarakat melalui link https://www.youtube.com/watch?v=miE5BKEYMZE atau melalui LCD proyektor yang
disajikan guru.
· Setelah mengamati video, guru menstimulus peserta didik
dengan memberikan pertanyaan
- “Apakah frekuensi pernafasan setiap orang itu sama?”
- “Bagaimanakah perbedaan frekuensi pernafasan orang yang
berbadan kurus dengan orang yang memiliki berat badan tinggi”
- “Mengapa terjadi perbedaan frekuensi pernafasan
tersebut?”
· Peserta didik diarahkan untuk menyebutkan alterlatif
solusi sementara terkait permasalahan yang diberikan.
2. mengorganisasi siswa
untuk belajar
· Guru mengajak peserta didik untuk membuktikan argument
mereka dengan melakukan penyelidikan.
· “Nah, untuk membuktikan kebenaran argument yang telah
kalian ajukan, mari buktikan dengan melakukan penyelidikan.”
· Peserta didik diberikan sumber literasi
belajar berupa handout/bahan bacaan
· Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan
penyelidikan.
· Peserta didik melakukan diskusi dalam menemukan solusi terkait permasalahan gangguan pernafasan.
3. membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
· Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan
percobaan dan penyelidikan.
· Peserta didik melakukan penyelidikan dengan percobaan
untuk membuktikan argument sekaligus menganalisis besar frekuensi pernafasan
setiap orang teman .
4. mengembangkan dan menyajikan hasil
· Peserta didik secara berkelompok merumuskan kesimpulan
tentang besarnya frekuensi pernafasan 5 orang teman yang berbeda.
· Peserta didik menganalisis penyebab adanya perbedaan
besarnya frekuensi bernafas setiap orang.
· Guru membimbing peserta didik mengisi table
pengamatan.
· Peserta didik menyajikan hasil penyelidikan pada LKPD.
5. menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
· Guru melakukan evaluasi kepada peserta didik
· Peserta didik yang mendengarkan diminta menanggapi dan
memberi komentar.
3.
Kegiatan Penutup
- Peserta didik dibimbing oleh guru merefleksi seluruh
aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan menyimpulkan konsep yang telah
dikonstruksi oleh peserta didik berkaitan dengan frekuensi mekanisme pernafasan
manusia.
- Guru memberikan refleksi kepada siswa berupa pemberian
pertanyaan
- orientasi siswa pada masalah
Soal No 2. Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif.
Penjelasan:
1. Model
Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan
semua peserta didik melalui kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil
tersebut terdiri dari beberapa peserta didik yang kemampuan berbeda. Dalam
pembelajaran kooperatif, siswa saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan
yang ditugaskan dan biasa disebut sebagai pembelajaran gotong royong. Tujuan
model pembelajaran kooperatif adalah membentuk peserta didik menjadi pribadi
yang lebih kuat dan peduli pada sesama, menciptakan keaktifan serta
keterlibatan semua peserta didik dalam pembelajaran, meningkatkan nilai
akademik pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan
kepekaan sosial peserta didik.
Beberapa
kelemahan dari penerapan model pembelajaran kooperatif antara lain:
- membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan dan
penerapannya
- guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang dan
membutuhkan banyak tenaga
- membutuhkan fasilitas, alat dan bahan yang memadai
- kesulitan membentuk kelompok yang solid
- siswa yang lebih banyak mengobrol daripada fokus
mengerjakan tugas,
- kurang cocok untuk siswa yang kurang aktif. Tidak semua
siswa mungkin aktif dalam kelompok, sehingga ada potensi bagi beberapa siswa
untuk "tertumpu" pada anggota kelompok yang lebih dominan.
- kesulitan menilai siswa sebagai individu karena individu
berada dalam kelompok
- memerlukan keterampilan khusus dalam mengelola kelompok agar tujuan pembelajaran tercapai
2. Model
Kuantum
Model
Quantum Learnig merupakan salah satu model pmbelajaran yang dilakukan dengan
lingkungan belajar yang menyenangkan akan mampu menggabungkan rasa percaya
diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi. Adapun tujuan dari
pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu menciptakan lingkungan belajar
yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan, menyesuaikan
kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, membantu meningkatkan
keberhasilan hidup dan karir serta membantu mempercepat dalam pembelajaran.
Beberapa
kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:
- Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan
yang mendukung.
- Memerlukan fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya
yang memadai
- Model ini dapat membuat ketidakteraturan di dalam kelas
- Memerlukan waktu yang lama dalam pelaksanaannya
- Kurang dapat mengontrol siswa
Pembelajaran
kolaboratif adalah model pembelajaran yang mempengaruhi peserta didik bekerja
sama dalam kelompok kecil untuk menuju tujuan bersama.Tujuan model kolaboratif
adalah memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan
pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara
kelompok maupun individu.
Beberapa
kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:
- Memerlukan pengelolaan waktu yang efektif agar semua
siswa dapat berkontribusi secara merata.
- Diperlukan pemahaman yang kuat tentang dinamika sosial
dan kemampuan untuk memfasilitasi kolaborasi antar siswa.
- Memerlukan infrastruktur dan jaringan teknologi informasi
komunikasi yang stabil dan efisien
- Memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika
tidak dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaboratif dapat terganggu
- Tidak semua aspek pembelajaran dapat terlaksana dengan
baik, sehingga perlu perhatian khusus dalam memastikan semua aspek tercakup
dengan baik
- Ada kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain
- Memakan waktu yang cukup lama
- Sulitnya mendapat teman yang dapat bekerja sama
- Ada kemungkinan peserta didik kurang aktif dalam kerja
kelompok, terutama ketika topik yang diberikan pada masing-masing kelompok
berbeda, sehingga dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami dengan baik
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif,
kuantum, dan kolaboratif dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum meliputi:
- Kesiapan dan Pelatihan Guru: Kesiapan dan pelatihan guru
dalam menerapkan model-model pembelajaran tersebut dapat memengaruhi
efektivitasnya.
- Keterbatasan Sumberdaya: Keterbatasan sumberdaya, seperti
ruang kelas dan materi pembelajaran, dapat menjadi hambatan dalam penerapan
model-model pembelajaran tersebut.
- Karakteristik Siswa: Perbedaan dalam gaya belajar dan
tingkat keterampilan siswa dapat memengaruhi efektivitas penerapan model
pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.
- Kesulitan dalam Pengelolaan Kelas: Pengelolaan kelompok
belajar dan interaksi antar siswa dalam model-model pembelajaran tersebut dapat
menjadi tantangan bagi guru.
- Kurangnya Dukungan Institusional: Kurangnya dukungan dari
pihak sekolah atau institusi pendidikan juga dapat mempengaruhi keberhasilan
penerapan model-model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.
Solusi
yang dapat dilakukan dalam mengatasi kelemahan tiga model pembelajaran yaitu
Model Kooperatif, kuantum dan Kolaboratif yaitu:
- Monitoring Kelompok adalah Pastikan untuk secara aktif
memantau dinamika kelompok. Jika ada ketidaksetaraan kontribusi,
intervensi diperlukan.
- Pemilihan Materi yang Tepat adalah Pastikan materi
pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman semua anggota kelompok, agar tidak
ada yang merasa tertinggal.
- Pengelolaan Waktu adalah Perhatikan pengelolaan waktu
dalam sesi kooperatif, kuantum, dan kolaborasi. Pastikan kegiatan tidak terlalu
lama atau terlalu singkat sehingga menciptakan ketidaknyamanan.
- Fasilitasi Aktivitas Kelompok adalah Bantu kelompok dalam
merencanakan dan melaksanakan tugas mereka. Fasilitasi diskusi dan pastikan
semua anggota terlibat aktif.
- Evaluasi Individual Selain penilaian kelompok,
pertimbangkan juga penilaian individu untuk memahami kontribusi masing-masing
siswa.
- Pelatihan Keterampilan Sosial adalah Berikan
panduan atau pelatihan keterampilan sosial kepada siswa agar mereka dapat
berkomunikasi dan bekerja sama dengan efektif.
- Variasi Model Pembelajaran adalah Gabungkan model
pembelajaran kooperatif dengan model lain untuk memastikan variasi dan memenuhi
kebutuhan belajar yang beragam.
- Refleksi dan Umpan Balik adalah Anjurkan refleksi
kelompok secara berkala dan berikan umpan balik konstruktif untuk perbaikan.
- Keterlibatan Orang Tua adalah Melibatkan orang tua dalam
mendukung kegiatan pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaborasi dapat
membantu mendukung keberhasilan siswa.
Semoga bermanfaat, terimakasih. Wassalamu'alaikum.
Nama
Kelompok 3:
1. Elda
Meitafia (P2A523002)
2. Puji Rizky
Widyaningsih (P2A523007)
3. Laila
Fitria (P2A523015)
4. Sabila Eka
Septi (P2A523019)
5.
Istiqomah (P2A523027)
Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.
Mata Kuliah Model dan Evaluasi
Pembelajaran Sains
Program Studi
Magister Pendidikan IPA
Universitas Jambi